RAMADHAN DAN WARIA



    
Tatkala aku dan seorang temanku pada saat fajar menyingsing sedang melaju dengan sepeda motor, seusai menyuplai perut untuk menunaikan kewajiban keagamaan. dipinggir jalan kami melihat seorang pria yang memakai busana feminimnya. ia berjalan tertunduk seperti meratapi nasib. mungkin setelah mencari secercah harapan dan kehidupannya dijalanan yang penuh caci maki. dengan wajah lesu dan hawa dingin fajar yang melunturkan make upnya. rasa iba ku datang dan bertanya siapa dalang sebenarnya yang bisa disalahkan atas hidup malang waria ini?...

Tatkala bulan Ramadhan telah tiba, ia tak takut dihardik oleh orang yang merasa susila hidupnya. bulan yang didewakan suci, terdapat pemandangan yang malang diharinya. ia berani mencari secercah harapan dan kehidupannya, dan tak takut hujatan menghujamnya. siapa yang bisa disalahkan dengan nasib hidup yang dialaminya?. negarakah?, aparat negara kah?, atau lembaga penegakan HAM?. siapa?, tolong datangkan utusan yang membawa messenger bag untuk memberiku jawaban. aku tidak mengetahuinya, karena aku adalah warga sipil biasa, yang hanya tertanam sedikit di kepala tentang perundang undangan negara.

mungkin ia telah banyak makan untuk kehidupan karena sudah biasa  tersisih di masyarakat dan diabaikan negara. pasti ia memiliki  alasan yang rahasia dilubuk jiwanya, layaknya dokumen negera yang dibawahnya tertulis  sangat rahasia. kalian kira dengan aku menuliskan ini karena memiliki orientasi seksuil yang berbeda?. tidak, kalian salah. aku menulis ini karena mereka sama manusia sepertimu yang layak bermimpi, dipedulikan dan mencari secercah harapan!

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer