SEDARI KECIL DIAJARI MEMBANGKANG




Dahulu sejak aku masih dijajah oleh kebodohan. Dimana pada saat itu rasional belum dimainkan sepenuhnya didalam batok kepalaku dan pandangan mataku yang masih kosong dalam melihat kehidupan. Aku sudah disusupi retorika retorika pembangkangan yang nyeleneh oleh  keluarga dan lingkungan ku. Pada saat aku di bentuk kognitif, afektif dan psikomotorik di sebuah lembaga pendidikan taman kanak-kanak. Aku sering mendapatkan perlakuan kekerasan oleh teman di lingkungan pendidikan taman kanak-kanak. Tatkala kemudian aku mengadu kepada ibu ku tentang tuna susila yang mereka lakukan kepadaku. Setelah kumengadukan hal itu, ibu dengan tegas bertanya kepada ku dengan tatapan yang tajam seperti seorang tokoh yang berdiri disebuah podium untuk menyerukan tindakan yang subversif.

Apakah engkau memperlakukan mereka dengan buruk? 

Dengan wajah berparas bodoh aku berkata

 Tidak

Jika tidak, lawanlah mereka!! 

Setelah aku beranjak dewasa. aku menyadari hal yang diajarkan oleh ibuku itu sama dengan para tokoh tokoh besar yang didewakan bangsaku. Mereka juga melakukan agitasi propaganda dikhalayak umum untuk membangkang dan melawan secara radikal. Ya!, Ibuku menyuruh ku melawan mereka dengan seruan yang sangat radikal!!!.  Karena para bandit itu menindasku!!!

Aku juga ingat saat aku, ayah dan ibuku sedang ingin berbelanja menuju supermarket. Dengan menggunakan mobil ia melaju melewati kantor polisi. Karna aku sering melihat seorang polisi dan rekannya dengan perut yang buncit menikmati kopi dan bermain kartu didepan kantor nya. Aku bertanya kepada ibuku dengan paras bodoh yang kubawakan.

Kenapa polisi ada yang berperut buncit bu?

Lantas ibuku menjawabnya dengan penuh candaan.

Mungkin ia korup nak!!! 

Aku hanya bisa menyengir kan tawaku.

Mungkin pada saat itu sedang maraknya aparat negara dan otoritas sedang korup korupnya.  Dan ibuku jengah melihat peristiwa itu terjadi pada otoritas dan aparat negara yang sewenang-wenang pada rakyatnya. Dilingkungan sekitar ku juga menyetujui candaan itu, polisi yang berperut buncit mereka stigmakan sebagai polisi yang korup.

Dan juga ketika aku hendak berkelahi dengan waktu untuk berburu ilmu pengetahuan disekolah. Keluarga besarku, ibuku, kakakku, bahkan ayahku menyisir rambutku dengan menghadap ke kanan. Padahal mereka telah melakukan pembangkangan secara radikal dengan pusaran rambutku!!!. Pusaran rambutku aslinya mengarah ke kiri, bukan ke kanan.

 Ketika seorang Barberman yang hendak merapikan rambutku membuatnya binggung melihat arah sisiran rambut ku. Ia lantas bertanya kepadaku. 

Rambutnya memang mengarah ke kanan? 

Karena mataku tidak pernah berkenalan dengan pusaran rambutku. Aku hanya bisa menyetujui nya dengan berkata iya. Barberman itu memberikan kultum singkat nya tentang rambutku. Bahwa arah pusaran rambutku ini mengarah kekiri bukan kekanan. Sekali lagi sungguh menarik!!!, Keluarga besarku melakukan pembangkangan dengan pusaran rambutku!!!.  Semenjak hal itu terjadi, Aku juga pernah bertanya pada diriku sendiri. 

Apakah aku ini dilahirkan menjadi orang kiri??? 

Ketika hal yang absurd itu terjadi pada diriku, aku juga pernah menjawab dengan tegas bahwa aku orang kiri tatlakala masih memerah yang keluar dari rahim ibuku. Karena kondisi pusaran rambutku mengarah ke kiri. 

 Pernah juga seorang temanku menyisirkan rambutku dan ia kebingungan karena pusaran rambutku yang aslinya menyerong ke kiri. mungkin matanya sudah sekian banyak berkenalan dengan meraka yang tergolong kanan pusaran rambutnya. Lantas Ia bertanya kepadaku.

Rambut mu ini mengarah ke kiri ya?

Layak nya nada seorang tokoh tokoh besar yang dijuluki sebagai singa podium ku menjawab!!!

Ya!!!, Aku sudah kiri sedari memerah (lahir)!!!

 

 



 


Komentar

Postingan Populer